Rabu, 26 Juni 2013

Receh for Books 2013




Uang receh alias uang kepingan logam. Bagi sebagian orang, benda ini mungkin termasuk salah satu benda yang nyebelin, udah bobotnya lebih berat dibanding uang kertas, eh nilainya biasanya cuma secuil. Makanya gak heran kalo uang receh lebih sering tersia-siakan *kasian kaan ;( *sok-sok dramatis :p 

Nah, dulunya saya juga bukan orang yang perhatian sama si receh ini. Paling-paling cuma saya geletakin gitu aja. Sampe suatu hari, saya dapet souvenir sebuah kotak tissue dari kantor. Berhubung ukuran tissue yang biasanya saya beli lebih besar dari kotak ini, jadi demi azas efektivitas *apasih ini* saya manfaatkanlah kotak tersebut untuk nyemplung-nyemplungin uang receh.

Hasilnya?


Masih Sedikit >,<

Yah, belom terlalu banyak sih *padahal umur kotak ini udah 3 bulanan -,- emang tujuan saya awalnya juga bukan buat nabung,cuma biar di kamer ga berserakan uang receh aja *malah ngeles :p

Tapi tiba-tiba, kemarin siang saya kembali teringat pada kotak harta karun saya ini, gara-gara pas blog-walking nemu postingan yang berjudul Receh for Books 2013 :D


Senin, 24 Juni 2013

Poirot’s Early Cases (Agatha Christie, 1974)



Ayeeey, udah tanggal 21 lagi aja nih, alhamdulillah :-D

Di tanggal yang istimewa ini, buka email pagi-pagi ternyata saya udah dapet hadiah yang saaangat spesial bagi saya. Apa itu?

Sebuah email yang berisi konfirmasi bahwa saya diterima bergabung dalam komunitas Blogger Buku Indonesia (BBI), horeee ^o^

Sebagai bentuk perayaan kecilnya, hari ini (telat 3 hari >,<) saya mau nge-post 1 lagi review buku. Supaya spesial, saya memilih mereview sebuah buku dari genre favorit saya (misteri) yang ditulis oleh penulis favorit saya (Agatha Christie) dengan tokoh utama detektif favorit saya pula (Hercule Poirot). Serba spesial bukan? ;)

Dan pilihan saya jatuh pada buku berjudul :  Poirot’s Early Cases (versi bahasa Indonesia-nya berjudul Kasus-Kasus Awal Poirot).


Rabu, 19 Juni 2013

Tirai (Agatha Christie, 1975)




Sebagai penggemar kisah-kisah detektif Hercule Poirot yang ditulis oleh Agatha Christie, novel “Tirai” (versi aslinya berjudul “Curtain”) menjadi salah satu novel yang masuk dalam jajaran wish-list saya. Bagaimana tidak, novel ini disebut-sebut sebagai novel terbaik Agatha Christie, yang telah selesai ia tulis pada tahun 1940-an namun baru ia izinkan untuk diterbitkan 30 tahun kemudian, yakni pada tahun 1975. Konon katanya, dalam kurun waktu 30 tahun tersebut tulisan itu hanya ia simpan dalam Safe Deposit Box pribadinya (huwaaoooo :D ). Novel ini juga merupakan novel yang mengangkat kasus pembunuhan terakhir yang diungkap oleh tokoh detektif fiktif paaaaaling brilian yang pernah saya tahu, Hercule Poirot, sebab di novel Tirai ini Agatha Christie akhirnya memutuskan untuk ‘mewafatkan’ sang tokoh (*hiks).

Yap, setelah ngidam bertahun-tahun karena nyari novel ini di semua perpus yang pernah saya datengin gak pernah nemu,, temen-temen gak ada yang punya jadi gak ada yg bisa dipinjemin (gak banyak juga sih yang sama2 suka Agatha Christie hehe),, berburu di Senen juga gak ada,, bahkan sampai di Gunung A*ung pun udah gak dijual (padahal disana masih dipajang 21 judul buku Agatha Christie yang lain hiks),, iseng-iseng searching di Mbah Google eh Alhamdulillah ada yang mau jual koleksinya ^o^




Rose Madder (Stephen King, 1995)


Nggak ada angin, nggak ada hujan, pada suatu siang salah seorang teman di kantor saya memberikan novel terjemahan Stephen King yang berjudul Rose Madder, Wanita dalam Lukisan. Rupanya, novel ini sudah lama dibeli oleh beliau namun tidak pernah tuntas terbaca. Begitu tahu kalo saya hobi banget baca novel yang berbau-bau misteri, langsung deh novel ini dihibahkan ke saya.

Sebelum ini, saya sama sekali belum pernah membaca karyanya Stephen King, jadi saya sama sekali nggak tahu genre penulis ini tepatnya apa. Ya sudah deh, coba dibaca aja :D



Novel setebal 765 halaman ini berkisah tentang seorang wanita bernama Rose Daniels yang menikah dengan seorang pria kejam bernama Norman Daniels. Selama 14 tahun pernikahan mereka, Norman yang berprofesi sebagai polisi seringkali menganiaya Rose, bahkan hingga Rose pernah mengalami keguguran.


Jumat, 14 Juni 2013

Sang Penandai (Tere Liye, 2006)




Tere Liye. Penulis yang satu ini sudah berhasil membuat saya kepincut sejak pertama kali membaca tulisannya. Hmmm, emang si abang yang satu ini (jangan berpikir Tere Liye itu cewek yaa :p) pandai nian merangkai kisah yang mendatangkan pemahaman-pemahaman baru hingga saya tak pernah bosan memburu karya-karyanya.

Salah satu karya Tere Liye yang udah selesai saya baca adalah Sang Penandai. Dibanding sama karyanya yang lain, Sang Penandai ini bisa dibilang kurang populer, mungkin karena emang diterbitkannya juga jauh sebelum Tere Liye se-eksis sekarang. Saya sendiri waktu memutuskan beli novel ini cuma karena jaminan nama penulisnya, padahal sama sekali belum pernah mendengar judulnya, malahan arti kata Sang Penandai aja waktu itu saya gak ngerti -___-

Lalu, seperti apakah cerita novel Sang Penandai ini? :D


Facebook on Love (Ifa Avianti, 2009)




Don’t judge a book by its cover. 

Rasanya pepatah lama itu sangat tepat diberikan untuk buku ini, dalam makna harfiahnya. Pertama kali lihat cover buku ini terpajang di rak perpus kantor, saya sama sekali gak berminat untuk meminjamnya. Kenapa? Covernya itu lhoo, koq terkesan sinetron banget ya? Udah gitu, jujur, judulnya pun nggak ‘memanggil’.





Yang ada di benak saya, kayaknya ini novel ababil banget deh. Tapi, setelah nggak ada lagi koleksi perpus di kantor saya yang menggoda untuk dipinjam (dan sayangnya koq ya gak nambah-nambah koleksinya), akhirnya saya comot juga novel yang satu ini..

Hmm, liat nama penerbitnya : Lingkar Pena Publishing House.


Kamis, 13 Juni 2013

Tini Membantu Ibu (Marcel Marlier)




Masih inget gak, buku cerita apa yang pertama kali kalian punya?

Saya? masih doooong. Tini Membantu Ibu :-)

sumber : http://tinilover-fanylynn.blogspot.com/

Yap, inilah judul buku cerita yang pertama kali banget saya punya. Buku ini dibeliin sama my lovely parents sebelum saya masuk TK, sekitar umur 4 tahunan.

Mungkin ini yang dinamakan sebuah imprint dalam teori ilmu psikologi, cerita dalam buku ini benar-benar membekas di benak saya padahal fisik buku itu entah udah kemana (*hiks).

Iseng-iseng googling, eh ternyata lumayan banyak juga ya generasi terdahulu yang suka sama Tini, bahkan sampe ada komunitas Tini Lovers. Berkat info dari mbah google juga, saya baru tau kalo Tini itu ternyata berbentuk serial, jadi ada beberapa judul lain selain Tini Membantu Ibu, seperti Tini Belajar Memasak, Tini Belajar Berlayar, dan Tini Ikut Pesta Bunga .


Selasa, 11 Juni 2013

Membaca Itu Nggak (Harus) Mahal !!




Andai di dunia penggila buku ada pembagian strata, saya yakin pasti saya masuk strata Low-Budget Reader atau malah The Lowest Budget Reader mungkin hihi.. Dari dulu, berhubung saya dari keluarga pas-pasan (*pas butuh pas ada, aamiin :p), saya sama sekali gak pernah punya anggaran khusus buat memenuhi hasrat saya akan buku. Tapi, bukan berarti hobi saya ini surut. Alhamdulillah, selama bertahun-tahun, saya berhasil membuktikan sendiri kalau ternyata membaca bukanlah hobi yang mahal.

Begitu banyak lhooo sumber-sumber bacaan yang bisa kita dapatkan, secara murah meriah, bahkan gratis :D Nah, disini saya pengen coba men-share darimana aja sumber bacaan saya selama ini, semoga bermanfaat.

·         Perpustakaan
Buat Low Budget Reader macam saya, perpustakaan itu laksana syurga *lebay hehe.. Tapi bener loh, di perpustakaan kita bisa meminjam aneka buku (biasanya) tanpa dipungut biaya sepeserpun.
Sayang pemerintah kita nampaknya belum menganggap perpustakaan merupakan salah satu fasilitas publik yang penting. Efeknya, kehadiran perpustakaan masih sangat terbatas di negeri ini. Yang paling familiar tentunya adalah perpustakaan sekolah, itupun masih belum semua sekolah memilikinya. Kalau di sekolah saya dulu, level SD belum ada fasilitas perpus-nya. Baru di SMP saya menjumpai dalam dunia nyata adanya perpustakaan sekolah, sebelumnya sih cuma membayangkan aja bentuk perpus sekolah itu kayak apa sih berdasarkan cerita-cerita yang saya baca hehe…


Twilight : The Novel (Stephenie Meyer, 2005) vs The Movie (Catherine Hardwicke, 2008)




“Aku tuh orang yang paling gak bisa nonton film, gak ngerti.. Enakan baca novelnya…”
***

Kalimat itu kerap kali saya tuturkan pada orang-orang terdekat saya ketika membahas sebuah karya yang ada versi ‘novel’ dan ada versi ‘film’ nya. Yap, saya mungkin culun, hari giniii gitu gak suka nonton film, but that’s a fact, mungkin saya emang terlahir sebagai orang yang lebih mampu menyerap informasi tertulis ketimbang informasi dalam bentuk audio visual. Contoh nyatanya terjadi pada cerita Harry Potter. Kebetulan, saya lebih dulu melihat film-nya ketimbang novelnya. Waktu melihat film si HarPot ini di VCD (kalo gak salah kelas 5 atau 6 SD) saya berkali-kali berisik bilang “ini film apaan sih, seriusan deh gak ngerti jalan ceritanya”, tapiiiiii begitu pertama kali berkenalan dengan novelnya (sekitar kelas 2 SMP) saya langsung terhanyut dengan fantasi J.K. Rowling.
Entah kena tulah atau apa, rasanya kali ini saya harus mengakui bulat-bulat bahwa tidak selamanya statement yang saya buat ini benar. Novel tidak selamanya lebih menarik daripada film, adakalanya justru film lebih bisa menggambarkan maksud si penulis. Dan uniknya, film yang berhasil membuat saya mengakui bahwa ia jauh lebih menarik dibanding versi novelnya adalah “Twilight”, sebuah kisah yang sebenarnya genre-nya gak jauh2 amat dari Harry Potter -___-‘



Pertama kali tau ada kisah Twilight dari mbak kosan pas jaman kuliah dulu. Waktu itu, si mbak tergila-gila dengan Edward Cullen dan alhasil berusaha meracuni seluruh kosan dengan virus Twilight :p Well, dasarnya saya penggila novel, kena bujuk lah saya untuk membaca novelnya. Tapi ternyata ini bukan novel yang bisa bikin saya terhanyut. Stuck di halaman-halaman awal, lupa sih tepatnya sampe bab berapa, tapi yang pasti kali itu saya gagal membaca sampai akhir.
Menurut saya, Twilight versi novel sangat membosankan, gak ada konflik spesial yang diangkat, sisi romance-nya juga gak terlalu kuat, biasa aja, datar. Hmm, tapi ini bisa dibilang ini hanya penilaian parsial lho yaaa karena saya cuma baca sebagian kecil dari novelnya.
Kebetulan dan kebetulan banget, Twilight ini mengangkat kisah percintaan antara seorang manusia (Bella Swan) dengan seorang vampire (Edward Cullen). Nah, waktu zaman SMP, saya pernah tergila-gila dengan serial cantik berjudul Throbbing Tonight yang juga mengangkat kisah percintaan antara seorang keturunan manusia serigala dengan seorang vampire (sampe khatam 30 seri + 1 seri bonus :p). Entah mungkin masih terlalu terpesona dengan kisah itu, saya jadi sedikit membanding-bandingkan, dan kesimpulan saya saat itu Twilight kalah jauuuuuh dibanding Throbbing Tonight yang berhasil memadukan romance,comedy,dan sedikit tragedy dengan teramat sangat pas.
Makanya saya heran banget, koq bisa ya Twilight menarik berjuta-juta orang menjadi penggemarnya bahkan kerap disebut-sebut sejajar dengan Harry Potter? :O

Dan jawabannya, saya dapatkan kemarin :-D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Boekenliefhebber Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino