Selasa, 30 Juli 2013

Oliver Twist (Charles Dickens, 1838)



Oliver menggigil ketakutan. Keringat dingin terus mengucur di tubuh kurusnya. Rasa lapar yang menggigit kini nyaris tak terasa. Orang berkerumun dengan tatapan penuh benci. Dia tidak mencopet. Tetapi, siapakah yang akan mempercayai omongan bocah miskin seperti dirinya?

Blurb di bagian belakang novel ini diambil dari salah satu fragmen yang menggambarkan kemalangan nasib Oliver Twist. Yap, sesuai judulnya, novel ini berkisah tentang kehidupan Oliver Twist, seorang bocah yatim piatu yang dilahirkan
di sebuah rumah sosial. Ibu Oliver Twist meninggal hanya beberapa saat setelah melahirkan. Karena tidak ada sanak keluarga yang dapat dilacak, akhirnya bayi Oliver Twist dibesarkan di rumah sosial tersebut.


Walaupun bernama rumah sosial, jangan bayangkan para pengurusnya adalah sungguh-sungguh orang yang berjiwa ‘sosial’. Inilah poin utama yang ingin diangkat oleh Dickens dalam novelnya, bahwa rumah sosial yang seharusnya bisa menjadi tempat berlindung kaum marjinal justru kerap kali menjadi neraka bagi mereka. Sebagai tokoh antagonis awal, Dickens menampilkan Tuan Bumble, seorang Sekretaris Desa yang berkarakter rakus, kejam, dan gila harta. Tuan Bumble inilah (bersama-sama dengan Dewan) yang berwenang menetapkan berbagai ‘kebijakan’ untuk rumah sosial yang ditinggali Oliver. Salah satu kebijakan mereka adalah menetapkan menu makan penghuni rumah sosial berupa bubur encer tiga kali sehari, dengan sesiung bawang Bombay dua kali seminggu, dan separuh roti gulung setiap minggu. Wew, dengan menu seperti itu, tidak diragukan lagi Oliver tumbuh menjadi anak yang kurus kering :(
 
Pada suatu hari, karena sudah tidak tahan, anak-anak rumah sosial tersebut bersepakat untuk meminta tambahan jatah makanan. Mereka memutuskan untuk mengundi siapakah yang akan menghadap Kepala Koki untuk menyampaikan permintaan itu, dan undian jatuh pada Oliver Twist.

Apa reaksi yang diterima Oliver saat ia mengutarakan permintaan itu?

ilustrasi Oliver saat meminta tambahan jatah makanan
Dewan marah besar, Oliver langsung dikurung, lalu keesokan harinya Dewan menempelkan pengumuman yang isinya menawarkan imbalan 5 pound bagi siapapun yang mau mengambil bocah ‘pemberontak’ itu !

Cerita pun bergulir. Sejak kejadian itu, Oliver seolah menjadi ‘bola-operan’. Ia sempat dipungut oleh seorang pengusaha peti mati bernama Tuan Sowerberry, lalu ia melarikan diri ke London, bertemu dan akhirnya ‘diasuh’ oleh komplotan penjahat yang dipimpin Tuan Fagin, hingga sempat hampir terjerumus dalam praktek kejahatan anak jalanan. Bahkan, Oliver nyaris dihakimi massa ketika ia disangka menjambret.

Ini adalah karya Dickens yang pertama saya baca, dan saya begitu menikmati karya ini. Di satu sisi, Dickens sungguh piawai menggambarkan berbagai karakter culas. Saya suka dengan pemakaian gaya bahasa ironi yang cukup banyak di novel ini, mempertajam kesan ‘nyindir’ terhadap kesewenang-wenangan para tokohnya. Namun di sisi lain, Dickens juga tidak membiarkan tokoh utamanya terus-menerus menderita. Tidak, Dickens tidak menggambarkan sosok Oliver Twist sebagai bocah yang pasrah saja menerima perlakuan tak manusiawi itu, dan buat saya inilah daya tarik utamanya :D

Dickens juga menggambarkan Oliver sebagai sosok berwajah menyenangkan, sehingga ketika di satu sisi ia dituduh oleh massa sebagai penjahat, di sisi lain pihak yang menjadi korban justru merasa iba padanya dan akhirnya memutuskan untuk merawatnya (hal ini terjadi dua kali di novel ini, pertama pada bab 12 dan kedua pada bab 29). Bukan cuma itu, Oliver juga digambarkan sebagai sosok yang kritis, dan ia adalah pembelajar yang baik. Ia bocah yang tahu berterima kasih kepada para penolongnya, sehingga manis sekali membaca setiap fragmen yang menggambarkan interaksi Oliver dengan dewa-dewi penolongnya itu, ada Tuan Brownlow, Nyonya Bedwin, Rose, Nyonya Maylie, Tuan Giles, serta beberapa kenalan mereka yang lain.

Tetapi di antara para penolong Oliver itu, saya paling jatuh hati pada karakter Rose :’) Rose digambarkan sebagai wanita yang sangat lembut, welas asih pada sesama, bahkan pada penjahat sekalipun ! Dan setiap tutur kata Rose menurut saya sangat pas dengan penggambaran itu. Bukan, bukan sekedar tutur kata manja yang ‘menye-menye’, tapi tutur kata yang bijak dan menentramkan. Aaaaah, Dickens, you made Rose being so lovable >,<

Dan saya tambah terpesona dengan adanya fragmen pengungkapan cinta Harry (putra Nyonya Maylie) pada Rose,, yaah walaupun Rose menolak, tapi dialognya sangaat maniiis :’D

“Kau diizinkan,” jawab Rose, “untuk berjuang melupakanku—bukan sebagai teman lama yang sangat kau sayangi, sebab itu akan amat melukaiku—melainkan sebagai orang yang kau cintai. Lihatlah dunia, pikirkan betapa banyak hati yang akan dengan bangga menerimamu, yang ada disana. Berbagi hasrat lainlah denganku. Jika kau bersedia, aku akan jadi teman paling sejati, paling hangat, dan paling terpercaya yang kau miliki.” (Hal. 362)

Keseruan buku ini makin memuncak menjelang bab-bab akhir, yaitu saat masa lalu Oliver perlahan-lahan terkuak. Ya, selama ini jati diri orang tua Oliver memang misterius. Pengurus rumah sosial tempat Oliver lahir tidak tahu identitas Ibunya karena wanita itu bukan penduduk setempat. Para penolong Oliver-lah yang akhirnya bersatu padu mengorek misteri ini, sekaligus membongkar kecurangan Tuan Bumble,Fagin, dan kawan-kawannya yang ternyata telah lama memegang ‘kunci’ misteri tersebut.

Yah, kombinasi yang luar biasa : kritik terhadap nasib malang seorang bocah papa berpadu dengan petualangan ala-ala detektif yang seru guna menemukan jati diri bocah tersebut, dan dibumbui sedikit fragmen romantis Harry dan Rose. Hasilnya? 



P.s. : Oliver Twist yang saya baca adalah versi bahasa Indonesia terbitan Bentang Pustaka. 
Review ini juga dibuat dalam rangka mengikuti :


5 komentar:

Hobby Buku on 14 Agustus 2013 23.00 mengatakan...

Aq baca edisi terjemahan dari Bentang, pertama kali sempat macet ditengah-tengah lalu mogok lama hehe
Pas awal tahun lalu, diajak baca bareng, mulai lagi dari awal ternyata jadi suka sama yg nama Om Dickens, jadi lanjut deh ke buku-buku lainnya :D
Terima kasih sdh ikutan giveaway-ku, semoga beruntung ya :D
(kunjung balasan dari http:lemarihobbybuku.blogspot.com)

Dianita Rizkiani on 15 Agustus 2013 09.27 mengatakan...

Waah kak maria, terima kasih sudah berkunjung balik :D diaminkan doanya xD

aq juga awalnya sempat ngernyit2 bingung pas baca halaman2 awal, banyak memakai gaya bahasa ironi hehe, memasuki bab-bab tengah baru paham karakter masing2 tokoh, dan akhirnya kebawa deh sampe selesai ^^ Buku om Dickens lain yg recommended apa kak? :)

ulin on 25 September 2014 19.58 mengatakan...

saya adalah salah satu penggemar novel ini .....

Alfiana Hikmawati on 9 Oktober 2014 23.01 mengatakan...

Kalau cari terjemahannya d mna ya ?? petunjuk please :'(

Dianita Rizkiani on 4 Januari 2015 22.13 mengatakan...

Hai Ulin dan Alfiana, maaf komennya baru terbaca ^^
@Ulin : Novel yg legendaris yaaa. Aku masih pengen baca novel Dickens yg lain tapi belum sempat2 nih, hiks.
@Alfiana : Layaknya di toko buku online masih banyak yg jual. Coba cek di bukukita.com, pengenbuku.net, atau toko2 buku online lain. Bisa juga googling pakai keyword : Jual novel oliver twist. Semoga membantu ;)

Posting Komentar

Silahkan komen :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Boekenliefhebber Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino