Rabu, 24 Juli 2013

Gading-Gading Ganesha (Dermawan Wibisono,2009)




Enam anak muda dari berbagai daerah di Indonesia –Slamet dari Trenggalek, Poltak dari Pematang Siantar, Ria dari Padang, Benny dari Jakarta, Gun Gun dari Ciamis, dan Fuad dari Surabaya – dipersatukan dalam sebuah persahabatan di kampus Jalan Ganesha, Institut Teknologi Bandung. Bersama-sama mereka mulai mengayunkan langkah dengan penuh idealisme dan cita-cita.
Bertahun-tahun, anak-anak muda dengan latar budaya dan sosial-ekonomi berbeda-beda itu mengalami berbagai suka-duka di kampus. Banyak kejadian lucu, seru, dan mengharukan yang mereka lalui bersama. Mulai dari kekonyolan-kekonyolan khas mahasiswa baru, persaingan cinta di antara mereka, hingga keterlibatan dalam gerakan mahasiswa menentang rezim politik yang represif. Semua itu semakin mempererat persahabatan di antara mereka.
Waktu berlalu dan satu per satu mereka pun lulus. Selepas dari ITB, mereka menjalani kehidupan masing-masing : menjadi dosen di almameter, pengusaha, pemusik, dan lain-lain. Berbagai kenyataan hidup menghadang mereka, mulai dari cinta, godaan materi, dan cobaan mempertahankan idealisme. Setelah bertahun-tahun, mereka bertemu kembali. Apakah persahabatan lama mereka masih berarti? Apakah segala cita-cita luhur mereka masih berbekas? Terwujudkah impian mereka?
Itulah sebuah kisah perjuangan anak bangsa meraih impian yang dipenuhi cerita-cerita mengharukan, kocak, sekaligus inspiratif.
Demikian bunyi sinopsis novel Gading-Gading Ganesha, sebuah novel yang ditulis khusus sebagai persembahan untuk memperingati Dies Natalis Emas ITB yang jatuh pada tahun 2009 lalu. Penulisnya sendiri adalah alumnus Fakultas Teknik Industri ITB, namanya Bapak Dermawan Wibisono.



Awal dapet rekomendasi novel ini jujur gak terlalu antusias. Pertama, melihat background penulisnya, waduh kayaknya bakal serius banget ini novel. Kedua, tema ceritanya sendiri *untuk saat ini* sudah tidak terlalu orisinil buat saya, karena sudah diangkat dalam Negeri 5 Menara dengan Pondok Madani-nya, Notasi dengan UGM-nya, dan Laskar Pelangi dengan SD Muhammadiyah-nya. Jadi, mau gak mau sejak awal membaca saya sudah bersiap-siap akan membandingkan 3G dengan novel-novel ‘saudara’nya tersebut. Dan hasilnya?

Tidak terlalu mengecewakan sih, tapi belum bisa dibilang yang terbaik :)

Untuk menilai sebuah novel benar-benar membuat seseorang tertarik atau tidak, paling gampang dan paling gak bisa diboongin sebenarnya bisa diliat dari kecepatan membacanya. Makin cepat sebuah novel selesai dibaca, maka bisa dipastikan orang tersebut benar-benar terhanyut dan terbuai dengan jalan ceritanya hingga tak rela berpaling dari si novel bahkan kantuk pun sanggup tak dirasa *apa deh ini*. Eh, tapi kalo buat saya pribadi hipotesis ini bener banget sih, dan ternyata Gading-Gading Ganesha yang terdiri dari 390 halaman bisa saya selesaikan dalam waktu 7,5 jam alias semalam sajaa, tanpa skipping 1 halaman-pun lho :)) Artinya, dari segi cerita, alurnya cukup mengalir. Ya, ternyata kekhawatiran saya di awal sama sekali tidak terbukti. Meskipun penulisnya adalah seseorang yang berlatar pendidikan teknik, namun ia ternyata cukup piawai meramu kisah dengan gaya bahasa yang crunchy.

Pemilihan diksi untuk percakapan antar tokohnya cukup sesuai dengan setting waktu yang dipilih, yakni era 80-an. Paling nggak banget itu kalo ada buku bersetting zaman baheula tapi sudah memunculkan kosakata alay masa kini, hadeeeuuh, untunglah tidak demikian dengan buku ini :D.

Dialek kedaerahannya juga sangat pas, tidak berkesan ‘maksa’. Saya rasa bukan hal yang aneh jika para mahasiswa mempertahankan bahasa ibunya meski ia sudah di tanah rantau. Dan novel ini mencoba menggambarkan realita tersebut. Mengingat 6 tokoh utama di novel ini berasal dari 5 suku yang berbeda, otomatis ada 5 bahasa daerah yang muncul. Nah, supaya pembaca tidak bingung, ada catatan kaki untuk menampilkan terjemahannya. Menurut saya, dialek kedaerahan ini muncul dalam takaran yang pas. Jadi, saya tidak merasa terlalu dibanjiri dengan catatan kaki terjemahan. Beberapa kali muncul sih J word (yang orang Jatim pasti ngerti, yang bukan orang Jatim silahkan tanya ke orang Jatim apa itu J word xD ). Mungkin sebagian merasa terganggu dengan istilah ini, tapi kalo saya menganggapnya suatu hal yang lumrah karena faktanya dulu teman-teman cowok di kampus saya pun kerap melontarkan istilah ini x).

Kalo dari segi kekuatan isi, hmm ini yang menurut saya agak kurang. Novel ini kurang ‘makjleb’ dalam menceritakan perjuangan para tokohnya bertahan di ITB. Saya merasa penulis justru lebih menonjolkan unsur percintaan di antara para tokohnya. Memang sih, kalo melihat cover-nya, novel ini mengangkat tagline “bahwa cinta itu ada”. Tapi makna cinta yang diangkat dalam novel ini menurut saya masih terlalu dangkal dengan konflik-konflik percintaan yang sinetron banget. Ada yang tokohnya ketemu jodoh gak sengaja di bis, ada yang (gak sengaja juga) di restoran, ada yang dijodohkan dengan sepupunya, ada yang selingkuh lalu tobat gara-gara istri dan anaknya meninggal (pas baca fragmen ini berasa nonton Rahasia Illahi :p), dan tentu nggak ketinggalan dua diantara keenam tokoh tersebut ternyata berjodoh,, saya pikir ide-ide ini sudah pernah diangkat di sinetron semua deh. Dan ‘uniknya’, semua konflik itu dicampur jadi satu di novel yang tebalnya ‘hanya’ 390 halaman ini. Yah, mungkin kalo halamannya lebih tebel, konflik-konflik itu bisa tersaji sedikit lebih dalam, dan saya jadi tidak memvonisnya sebagai konflik sinetron karena mungkin ada yang berbeda dan bikin ‘ngena’ dalam gaya penceritaannya. Sayang, itu cuma ada dalam angan saya saja.

Selain itu, jujur saya lumayan terganggu dengan banyaknya lelucon yang saru dalam novel ini. Saya gak akan mempermasalahkan kalo lelucon seperti ini hanya muncul 1 atau 2 kali saja, mungkin sebagai cara untuk menunjukkan sisi kemanusiawian para tokohnya yang notabene masih muda. Saya akan acungkan jempol malah karena hal ini berarti penulis benar-benar total menggarap karyanya, tidak jaim dan tidak sungkan mengungkap sedikit sisi ‘nakal’ ITB. Tapi, saya nilai penulis terlalu over di sisi ini, sehingga *jujur lagi nih ya* saya jadi bertanya-tanya : apakah civitas akademika ITB tidak ada yang berkeberatan? Terlebih, jelas-jelas novel ini didedikasikan untuk perayaan ulang tahun emas ITB. Tidak adakah jokes lain yang lebih sopan yang bisa diangkat? Yang paling bikin saya kesel itu fragmen di halaman 87 sampai 89, sebuah fragmen yang terjadi saat keenam tokoh sedang di tengah-tengah perjalanan menuju gua Jepang. Gak usah saya sebutin ya fragmennya apa, yang pasti fragmen itu sangat merendahkan derajat wanita, dan saya dibuat kesal karena fragmen itu sebenarnya sama sekali gak berhubungan dengan benang merah cerita, tanpa fragmen itupun novel ini bakal tetep utuh, tapi koq ya kenapa ditongolin? -____- Hanya sekedar menambah humor-kah? Saya cuma kasian dengan tokoh perempuan yang jadi korban di fragmen ini. Iya, saya tahu, dia cuma tokoh fiktif, tapi mau tidak mau setiap pembaca akan memvisualisasikan setiap adegan yang ia baca dalam benaknya. Dan, sekali lagi, tanpa fragmen ini pun keutuhan cerita dalam novel tidak akan rusak, jadi gak usah lah ya menambahkan visualisasi yang hanya merendahkan derajat kaum wanita saja.

Eh iya, selain fragmen itu, sebenarnya ada beberapa fragmen lain di novel ini yang berkesan ‘numpang lewat’ saja. Tapi untuk yang lain mah saya gak kesel koq, karena gak saru ! Contoh fragmen ‘asal lewat’ yang bikin saya sedikit mengerutkan dahi :
Saat di bis dari Trenggalek menuju ITB, Slamet melihat ada telur asin tergeletak dan dinarasikan bahwa ia tergoda untuk mengambilnya, tapi hati nuraninya tidak berkenan. Titik tok cuma itu tanpa ada ending siapakah yang memenangkan pergulatan dalam hati Slamet : hawa nafsunya atau hati nuraninya? *aseek dah bahasanya* Lalu, di bab berikutnya saat fragmen pendaftaran ulang di ITB, Slamet dikisahkan menenteng bungkusan telur asin. Lah saya kan jadi bertanya-tanya, itu dapet beli atauuuu??? #iyaa, saya tahu ini bukan detil yang penting,tapi saya penasaran X)

Tanpa sadar, ternyata saya sudah ngoceh banyak banget tentang poin minus novel ini :3 Tenang pak penulis, saya reviewer yang adil kok, sekarang tinggal saya jabarkan poin-poin yang saya suka yaaa :))

Pertama, saya sukaaa banget dengan fragmen yang menceritakan kisah pendudukan kampus ITB oleh tentara pada tahun …. . Gaya penceritaannya membuat saya merasa benar-benar diterbangkan ke masa itu : melihat bagaimana detik demi detik proses pendudukannya, merasakan emosi para ITB-ers saat berusaha berjuang mempertahankan kampusnya, jatuh simpati pada kloter pertama tentara yang diutus menduduki (karena mereka tidak sewenang-wenang dan memilih bersikap persuasif), dan mengutuk rombongan tentara kloter kedua yang bertindak bak tiran. Jujur, saya baru tahu dari novel ini bahwa ITB pernah mengalami sejarah kelam tersebut, sebuah sejarah yang teramat sangat mencoreng kedaulatan dunia pendidikan.

Kedua, saya juga suka pake double banget dengan puisi yang ada di bab terakhir, sebuah puisi yang ditulis oleh angkatan 77 ITB, judulnya : “Selamat Pagi Indonesia”. Saya share disini ya puisinya, silahkan menikmati :)


Selamat pagi Indonesia 
Selamat pagi Indonesia 
Kami termasuk 80% rakyatmu 
Yang rajin bangun pagi 
Yang tidak pernah gentar 
Bangun lebih dahulu dari matahari

Selamat pagi Indonesia 
Di bumimu kami berdiri 
Dengan mengepal segenggam ‘kesungguhan’ 
Yang kami dekap erat 
Tepat di jantung kamu berdetak 
Menapaki hari demi hari 
Selamat pagi Indonesia

Di bumimu keringat kali jatuh Kami bekerja keras pantang mengeluh 
Tak perlu diajari lagi! 
Karena kerja keras adalah napas kami 
Selamat pagi Indonesia 
Merah-putihmu berkibar di hati 
Kerja bagi kami adalah harga diri 
Kerja bagi kami 
Adalah mengerahkan kekuatan kami sendiri 
Karena kami tidak sudi korupsi! 
Selamat pagi Indonesia 
Kerja adalah kebanggaan kami 
Demi sebuah eksistensi 
Selamat pagi Indonesia


Gimana? Manis kan? Sederhana namun makjleb kalo untuk saya. Kenapa? Karena saya percaya bahwa perubahan besar itu tak harus selalu berawal dari perbuatan besar. Perbuatan sederhana, sesederhana kebiasaan bangun pagi pun bisa berpengaruh lho ke kinerja seseorang.

Cocok nih ditempel di meja kerja sebagai penyemangat kalo lagi males *eh :P

Tapi kalo dinilai secara keseluruhan, buku ini bisa dibilang setara ekspektasi saya (karena saya juga tidak menaruh ekspektasi tinggi terhadapnya :p). Sebenarnya ada 1 poin lagi yang sesungguhnya bisa menjadi bahan penilaian novel ini, yakni sisi sentimentilnya. Sejauh apakah buku ini mampu membangkitkan kenangan para ITB-ers terhadap almameternya? Jelas, saya tidak bisa menilai karena saya bukan bagian dari mereka. Jadi, book-meter buku ini untuk saya : 


*2 bintang untuk novelnya plus bonus 1 bintang khusus untuk Selamat Pagi Indonesia-nya :D

P.s : credit untuk yang sudah rela meminjamkan novel ini ke saya padahal dia sendiri belum selesai baca xD

Review ini juga dibuat dalam rangka mengikuti :
 

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan komen :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Boekenliefhebber Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino