Selasa, 25 Februari 2014

[Review #4] Judul Buku Ini : RAHASIA



PERINGATAN: JANGAN BACA HALAMAN BERIKUT INI! Dan, jangan main-main, buku ini sangat berbahaya. Tidak, bukannya buku ini bisa meledak di hadapanmu. Atau menggigit kepalamu sampai putus. Atau mencabik-cabikmu. Mungkin sama sekali tak akan mencederaimu. Kecuali seseorang melempar buku ini ke arahmu, dan kemungkinan seperti ini tidak boleh ikut diperhitungkan.


Pada pokoknya, buku ini tidak membahayakan. Kecuali ketika kau membacanya, itu saja. Karena bisa mendatangkan macam-macam masalah. Sebagai contoh, buku dapat mendatangkan ide. Aku tak tahu apakah sebelumnya kau punya ide atau tidak, tapi kalau kau punya, kau tahu betapa banyak kesulitan yang ditimbulkan oleh sebuah ide. Buku juga dapat menyulut emosi.


Dan terkadang emosi bahkan lebih menyulitkan daripada ide. Emosi dapat menyebabkan seseorang melakukan segala hal yang kemudian mereka sesali-seperti, ya, melemparkan buku pada orang lain. Tapi alasan utama buku ini sangat berbahaya adalah karena memuat sebuah rahasia. Rahasia besar.


Terkadang, membaca sebuah buku yang ditemukan secara tidak sengaja justru jauh lebih mengasyikkan. Saya menemukan buku ini di perpustakaan kantor, berada di antara bagian rak fiksi buku-buku yang sudah agak lama. Saat baru membaca bagian prolognya, saya seketika merasa terpanggil untuk meminjam.

Cara kerja rahasia itu lucu. Kalau kau tak tahu-menahu tentang sebuah rahasia, kau sama sekali tak akan terganggu. Kau melakukan saja urusanmu tanpa memedulikan sekelilingmu. Tapi, begitu kau mendengar tentang rahasia, hal itu akan mulai mengganggumu. Rahasia apa, ya? Kau bertanya-tanya. Kenapa aku nggak boleh tahu? Kenapa penting banget?

Euww, yah.. Prolog buku ini memiliki magnet yang terlalu kuat untuk diabaikan begitu saja oleh orang yang level keponya tinggi macam saya :P.


Judul buku ini : RAHASIA. Dari judulnya saja jelas sudah tidak biasa. Namun, saya tahu, begitu banyak buku-buku dengan judul yang spektakuler, judul yang begitu mengundang, eh ternyata isinya biasa-biasa saja. Apakah buku ini juga seperti itu? Mari kita lihat :).

Tokoh utama dalam buku ini adalah seorang anak perempuan bernama Cassandra (biasa dipanggil Cass) dan seorang anak laki-laki bernama Max-Ernest. Mereka berdua bersekolah di sekolah yang sama, namun awalnya tidak berteman (Bukan berarti musuhan lho yaa.. Bukan berarti tidak saling kenal juga, hanya tidak berteman saja. Bingung? Makanya dibaca dong bukunya :P). Kedua anak ini masing-masing dikenal memiliki kepribadian yang aneh. Hmm, sebenarnya nggak aneh-aneh banget siih kalo mengingat usia mereka yang memang masih usia SD.

Cass memiliki obsesi menjadi seorang survivalis. Ia kerap kali memperingatkan orang-orang bahwa dunia di sekitar mereka sedang terancam bahaya. Ya, Cass senang mengkhayalkan bahwa bumi akan diserbu UFO, atau sekolah mereka akan meledak karena terkena limbah berbahaya, dan hal-hal lain semacam itu. Cass juga tidak pernah lepas dari ranselnya, yang berisi segala macam alat yang dia rasa akan dia butuhkan andai bumi ini terkena bencana besar.

Max Ernest adalah tipikal orang yang selalu berpikir serius dan mengandalkan logika. Namun, alih-alih terlihat cerdas, Max Ernest justru terlihat aneh di mata teman-temannya. Max Ernest suka berusaha melucu dengan menceritakan aneka macam lelucon. Sayangnya, karena diceritakan dengan terlalu serius, teman-temannya tidak pernah ada yang tertarik.

Selain punya karakter sifat yang unik, latar belakang keluarga Cass dan Max-Ernest juga tak kalah menarik. Cass hanya tinggal memiliki seorang ibu. Namun Cass sering dititipkan kepada dua orang kakek yang merupakan sahabat ibunya. Kedua orang kakek angkat Cass ini memiliki hobi mengumpulkan barang-barang bekas yang unik. Sedangkan keluarga Max-Ernest, haduuh.. Saya nggak bisa cerita deh, ngakak abis pokoknya.

Nah, suatu hari, saat Cass sedang bermain di rumah kakek angkatnya, datang seorang Nyonya mengantarkan satu kardus barang bekas kepada kakek Cass. Barang bekas ini berasal dari rumah seorang pesulap yang baru saja meninggal. Salah satu isi kardusnya yang paling menarik hati Cass adalah berupa Simfoni Bau-Bauan. Simfoni Bau-Bauan merupakan satu set botol kecil yang berisi aneka cairan dengan bau beraneka ragam. Cass dan kakeknya menduga bahwa simfoni bau-bauan ini sengaja diciptakan sang pesulap untuk melatih indera penciuman.

Berawal dari simfoni bau-bauan itu, Cass tertarik untuk mendatangi rumah almarhum sang pesulap. Namun, karena tidak berani sendiri, Cass akhirnya mengajak Max-Ernest. Mengapa harus Max-Ernest? Cass sendiri tidak tahu, ia hanya spontan saja percaya pada sosok Max-Ernest, padahal saat itu mereka belum pernah berteman lho.

Di rumah almarhum sang pesulap, Cass dan Max Ernest menemukan sebuah buku harian. Dari buku itu, Cass dan Max-Ernest curiga bahwa kematian sang pesulap terjadi secara tidak wajar. Akhirnya, dimulailah petualangan mereka menyelidiki kematian sang pesulap.

Membaca buku ini mengingatkan saya dengan kisah-kisah Trio Detektif. Kebetulan, saya lagi kangeeeen banget dengan cerita detektif khas anak-anak, yang terakhir saya baca pada masa SMP. Jadi, saat membaca buku ini, berasa mengobati kerinduang banget :').

Hal yang paling saya suka dari cerita detektif anak-anak adalah karakter para tokohnya yang memiliki keberanian besar, kadang sedikit ceroboh, namun seringkali memiliki ide-ide spontan nan jenius ketika sudah terjebak bahaya. Hal itu pulalah yang saya temukan dari karakter Cass dan Max-Ernest. Duet mereka berdua sangat paas sekali. Cass yang pemberani namun cerewet dan agak sedikit emosian diimbangi oleh karakter Max-Ernest yang lebih tenang dan selalu mengandalkan logika. Teka-teki yang disodorkan oleh penulis juga menyenangkan untuk diikuti. Dimulai dari pemecahan simfoni bau-bauan, aneka anagram, hingga pemecahan simbol-simbol. Tak terlalu sulit untuk ukuran orang dewasa, namun tetap saja menarik. Salah satunya, yang paling saya suka adalah anagram dari puisi di bawah ini :

Please be SILENT and LISTEN
I am the SCHOOLMASTER
and you are in the CLASROOM
Just like ELEVEN PLUS TWO equals TWELVE PLUS ONE,
and even a FUNERAL can be REAL FUN,
You will find my DICTIONARY is quite INDICATORY.
If you want to read my story, just look...
THEN UNREAD 

Agak creepy sih puisinya, tapi indah ya? Bisa menebak nggak, makna dari anagram puisi di atas? :D.

Bukan hanya tentang anagram, buku ini juga memberikan saya wawasan tentang keistimewaan seorang penyandang Sinestesia. Mereka adalah orang-orang yang mengalami kekacauan pengindera, misal menganggap warna sebagai bau, suara sebagai warna, dan sebagainya. Sekilas, penyandang sinestesia ini terlihat aneh, namun kalau dari buku ini saya justru malah melihat bahwa mereka sebenarnya sosok yang istimewa. Dari buku ini pula, kita diajarkan untuk menghargai setiap 'keistimewaan' manusia. Buku ini juga menyajikan kritik tentang manusia yang sudah terlalu terobsesi dengan ilmu pengetahuan, hingga menghalalalkan segala cara untuk mewujudkan ambisinya terhadap suatu penemuan tertentu, bahkan sampai mengorbankan orang-orang 'istimewa' tersebut. Buku ini mengajak kita untuk lebih mengutamakan sifat manusiawi dibanding obsesi terhadap ilmu.

Karakter-karakter pendukung dalam buku ini juga tidak kalah menyenangkan. Favorit saya adalah kakek-kakek angkat Cass yang sungguh sangat menyayangi Cass. Ketika Cass yang usil 'menghilangkan' simfoni bau-bauan, kedua kakek Cass hanya berkata seperti ini :
Cass, dengar, tak peduli dengan Simfoni Bau-Bauan itu. Apapun yang terjadi, itu hanyalah... sebuah benda. Kalau sudah hilang, ya sudah...
Tak peduli sebanyak apapun kotak yang dibawa Gloria kemari, tak satupun barang di dalamnya yang setara denganmu.
Gaya penceritaan penulisnya juga penuh kejutan.  Permainan font yang bervariasi tapi tidak sampai membuat mata sakit, karikatur yang lucu, pemilihan kata yang nyentrik, bahkan sampai ada halaman yang KOSONG. Kejutan-kejutan kecil yang membuat pengalaman membaca buku ini semakin menyenangkan.

Ah, lima bintang deh untuk Pseudonymous Bosch.



0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan komen :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Boekenliefhebber Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino