Rabu, 11 Februari 2015

[Review #11] Misteri Tujuh Lonceng by Agatha Christie


Penulis : Agatha Christie | Penerbit : GPU | 304 Hal
Setiap langkah teka-teki itu bertambah membingungkan, semakin mengerikan dan berbahaya dan akhirnya... Ternyata pemuda itu tidak mati karena terlindas mobil... Surat yang berbunyi, "Lupakan tentang Tujuh Lonceng. Aku pikir itu Cuma lelucon. Tapi bukan". Bunga-bunga putih menghias penutup peti memantulkan pucatnya wajah muda yang telah pergi... Tujuh jam berdetik di atas perapian berdetik semakin keras, dan mengancam.... Nomor Tujuh mengangkat tangannya perlahan, mencoba melepas pengikat topengnya...

Di suatu akhir pekan, enam orang pemuda yang bernama Gerry Wade, Ronny Deveraux, Bill Eversleigh, Jimmy Thesiger, Nancy, Helen, dan Socks berlibur bersama di suatu rumah peristirahatan dengan tuan rumah Sir Oswald Coote dan Lady Coote. Pasangan Coote adalah orang yang terbiasa berdisiplin, termasuk dalam hal waktu makan pagi. Gerry Wade kesulitan untuk mengikuti kebiasaan ini. Ia terbiasa bangun siang saat sedang liburan. Karena merasa tidak enak dengan pasangan Coote, Ronny Deveraux dan kawan-kawan berinisiatif keesokan harinya akan mengerjai Gerry Wade supaya ia berhasil bangun pagi. Mereka berdiskusi cara apa yang akan dipakai. Setelah meminta pendapat Pongo, sekretaris Coote yang sangat efisien, akhirnya mereka sepakat untuk menaruh 8 jam weker di kamar Gerry Wade secara sembunyi-sembunyi.

Keesokan harinya, saat kedelapan jam weker itu sudah berbunyi nyaring, Gerry Wade malah tidak bangun. Ia ditemukan tewas di dalam kamar. Diagnosa dokter, ia over dosis obat tidur. Yang aneh, delapan jam weker yang semula ada di kolong tempat tidur telah berubah posisi berjejer di atas perapian. Dan jumlahnya hanya tujuh. Satu jam weker yang hilang, ditemukan pecah di halaman. Siapa yang memindahkan jam weker tersebut?

Ronny Deveraux tidak percaya bahwa Gerry meninggal karena over dosis. Menurutnya, Gerry bukanlah orang yang kecanduan obat tidur. Pendapat Ronny ini diamini oleh adik tiri Gerry yang bernama Loraine Wade. Ronny dan Loraine malah curiga ada yang sengaja meracun Gery.

Tidak berselang lama, Ronny tewas tertembak di jalan dekat rumah peristirahat itu. Kali ini, sebelum tewas, Ronny sempat meninggalkan pesan terakhir kepada Lady Eileen Brent atau biasa dipanggil Bundle.Bundle adalah anak dari Lord Caterham, pemilik asli rumah tersebut. Pesan yang ditinggalkan Ronny berbunyi :
Tujuh Lonceng... Katakan, Jimmy Thesiger...

Nah, muncul lagi kalimat tujuh lonceng! Apakah kematian Ronny dan Gery saling terkait?

Bundle yang penasaran lalu mengajak Jimmy dan Bill untuk menyelidiki kasus ini lebih dalam. Berbekal informasi dari salah satu orang Scotland Yard, Inspektur Battle, Bundle mengetahui bahwa Tujuh Lonceng adalah nama salah satu organisasi bawah tanah. Pada saat yang hampir bersamaan, ayahnya memberitahu Bundle bahwa salah satu temannya yang bernama George Lomax yang akan mengadakan pesta privat mendapat surat kaleng peringatan dari Tujuh Lonceng. Pesta privat itu akan dihadiri oleh para politikus dan direncanakan akan ada 'transaksi' serah-terima dokumen rahasia di pesta tersebut. Demi mengamankan dokumen rahasia tersebut dan mencegah jatuhnya korban baru serta menangkap sang pelaku, akhirnya, Bundle, Bill, Jimmy, dan Inspektur Battle bersama-sama  datang ke pesta privat George Lomax.

Membaca buku karya Agatha Christie yang tidak menggunakan tokoh Hercule Poirot masih jarang memberikan keseruan yang sesuai ekspektasi awal saya, termasuk buku ini. Harus saya akui, saya sangat tersendat-sendat membaca buku ini. Siklus "pegang-baca-lempar-beralih ke buku lain" sudah berulang kali dialami oleh buku ini, dan gak selesai-selesai. Kalau boleh dibikin bullet points, ini beberapa penyebab mengapa buku ini kurang menyenangkan buat saya :

  • Premis cerita yang tidak baru
Cerita ada seseorang/sekelompok orang sedang mengincar dokumen rahasia negara, sudah pernah diangkat sebelumnya oleh Christie >,<. Tepatnya di cerpen berjudul Rancangan Kapal Selam, yang ada dalam buku Kasus-Kasus Perdana Poirot. Yup, sebenarnya bukan hal baru Agatha Christie mengembangkan cerpennya ke dalam sebuah novel utuh. Dan seringkali saya suka dengan pengembangannya karena saat membaca dalam 1 versi novel utuh saya bisa mendapatkan cerita yang lebih mendalam, dengan pengenalan tokoh yang lebih mengena, dan tentu saja biasanya lebih tegang. Tapi berbeda dengan buku Misteri Tujuh Lonceng ini. Buat saya, pengembangan cerita dalam buku ini lebih berkesan bertele-tele. Kisah pengantarnya tidak memiliki keterkaitan yang erat dengan kisah utama. Pengembangannya terasa kentang alias nanggung. Gimana nanggungnya? Akan saya jelaskan di poin ketiga :D. Sebelumnya, loncat ke poin 2 dulu.
  • Diksi yang 'aneh'
Di buku ini, ada satu tokoh bernama Socks yang diceritakan suka sekali menggunakan kata luwes. Saking terbiasanya, kata itu digunakan terlalu sering, tidak pada tempatnya, dan kesannya jadi krik krik...
Kami tak butuh jam yang luwes," kata Socks. "Yang kami butuhkan yang bunyinya nyaring."
Saya nggak paham apa makna kata luwes ketika itu dikonotasikan dengan jam. Menurut saya nggak nyambung sama sekali. Dan masih banyak lagi penggunaan kata luwes yang diucapkan Socks yang juga sama-sama nggak nyambung dengan objek yang dibicarakannya. Nggak tahu, ini masalahnya ada di penerjemahan atau bukan. Saya jadi penasaran, versi aslinya menggunakan kata apa ya? :D Hal yang dapat saya maklumi jika kebiasaan penggunaan kata luwes itu kemudian berhubungan dengan pemecahan kasus. Masalahnya ini tidak, jadi kan yaaa berasa mengganggu banget.
  • Keterkaitan antar-tokoh dan antar-cerita kurang dijelaskan
Ini yang saya bilang kentang alias nanggung. Di awal saya sebutkan, ada enam tokoh yang berlibur bersama. Tentu wajarnya mereka bisa berlibur bersama karena sudah saling mengenal, atau setidaknya dikenal oleh tuan rumah. Ini tidak.. Sampai akhir cerita saya masih bingung kenapa koq mereka semua bisa menginap bersama Lady Coote dan Sir Oswald Coote. Padahal dari interaksi yang terjalin, terkesan jelas bahwa mereka bukan hanya tidak saling mengenal, tapi juga tidak terlalu sepaham dengan keluarga Coote yang cenderung kolot. Sisi kentang lainnya tampak dari peristiwa pengungkapan terbunuhnya Gery dan Ronny yang kurang menonjolkan alasan psikologisnya. Ibaratnya, kalau tidak ada petunjuk kebetulan yang ditinggalkan salah satu almarhum, mungkin peristiwa ini tak akan pernah terungkap. Well, Christie tampaknya memang hanya memberikan kehebatan analisis psikologis mendalam pada karakter Poirot saja :p Intinya, dalam novel ini Christie terlihat terlalu terburu-buru (atau mungkin tokohnya yang kebanyakan?) sehingga karakter psikologis masing-masing tokoh belum sempat dikenali oleh pembaca, pelaku keburu terungkap.


Namun demikian, tidak adil rasanya kalau saya bilang buku ini sama sekali tidak ada sisi menariknya. Beberapa sisi menarik di buku ini :
  • Karakter Lord Caterham dan Lady Eileen Brent
 Sukaaa banget sama pasangan ayah-anak ini :D Karakter Lady Eileen Brent atau biasa dipanggil Bundle adalah tipikal perempuan muda yang enerjik. Sementara sang ayah, tipikal orang tua asyik. Yup, padahal dia kan bergelar Lord ya, yang biasanya digambarkan kolot-kolot gitu, tapi di buku ini enggak. Yang paling lucu, saat Bundle dilamar oleh salah seorang politikus tua. Responnya Lord Caterham itu bikin ngakak.

Halo, Bill. Mencari Lomax? Coba ke sini sebentar. Bisa aku minta tolong? Katakan pada dia ada rapat Kabinet mendadak atau apa saja yang bisa membuatnya pergi dari sini. Aku tidak tega melihat orang tua menjadi tolol gara-gara seorang gadis
  • Prinsip penyelidikan Inspektur Battle
Hal yang paling menjadi titik perhatian dari sebuah cerita detektif pasti penyelidiknya. Buat saya, penting banget karakter si penyelidik ini. Penyelidik yang punya prinsip-prinsip unik bisa membuat jalan cerita semakin menarik. Hal inilah yang dimiliki oleh Inspektur Battle. Ia punya prinsip, penyelidik itu hadir untuk mencegah kejahatan, bukan untuk mengatasi kejahatan. Jadi, ia tidak masalah jika kehadirannya mencolok, dan membuat penjahat jadi enggan melaksanakan niatnya.
Jadi membuat mereka berhati-hati? Mengapa tidak?
  • Cara kegelisahan Lady Coote dijabarkan
Di antara tokoh lainnya, mungkin hanya Lady Coote yang psikologinya digali paling dalam di buku ini. Tentang kegelisahannya pada sang suami yang ia anggap semakin ambisius dalam mengejar harta.
Dia terus dan terus maju sampai dia tak bisa berhenti lagi. Dia ingin jadi-- ah, aku tak tahu apa yang diinginkannya. Kadang-kadang aku jadi ngeri!
Tentang ketidaknyamanannya dalam berinteraksi dengan para pelayan. Semuanya tergambar jelas lewat adegan-adegan yang terjadi. Dan ini merupakan khas Christie, menceritakan karakter seseorang tidak secara langsung, tetapi lewat berbagai kejadian. Saya senang ciri khas ini masih ada di buku Misteri Tujuh Lonceng, walaupun yang paling kuat hanya di tokoh Lady Coote.

Nah, itulah dia sisi menyenangkan dan tidak menyenangkan dari buku Misteri Tujuh Lonceng ini. Sekali- sekali bikin review dalam bentuk bullet points ternyata asyik juga ya :p Oh iya, saya agak penasaran juga sih. Katanya ada satu buku Christie lain yang juga mengambil setting yang sama dan juga diselidiki oleh Inspektur Battle, yang judulnya Rahasia Chimneys. Mungkin hal-hal nanggung yang ada di buku Misteri Tujuh Lonceng ini bisa terjawab di Rahasia Chimneys. Who knows? :D Sebagai penutup buku ini, seperti biasa Christie juga menyelipkan sedikit nuansa sweet romance yang membuat pembaca bisa tersenyum setelah sepanjang buku tegang menyimak darah berceceran di mana-mana haha.

Untuk pengarang favorit, tidak mungkin kurang dari 3 bintang #eaaaaa.





Review ini diikutsertakan dalam :

Kategori : It's Been There Forever

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Boekenliefhebber Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino